Menentukan Ukuran Pasar yang Efektif Bagi Perusahaan Rintisan
13/09/2021
The Role of Venture Capital as a Startup Catalyst
13/09/2021

SETIAP perusahaan rintisan (startup) membutuhkan ide bisnis yang bagus, tetapi dalam mewujudkannya maka memerlukan peran anggota tim yang hebat. Tidak hanya hebat dalam keterampilan dan pengalamannya, tetapi tim juga harus unggul dalam bekerja sama agar keberhasilan tim pun tercapai. Dengan kata lain, anggota tim memiliki peran penting sebagai penggerak awal sebuah ide usaha.

Ekonom asal Amerika, Tom Eisenmann dalam Harvard Business Review (2021) mengungkapkan lebih dari dua per tiga perusahaan startup gagal menghasilkan keuntungan bagi investor.

Berdasarkan penelitiannya, kegagalan startup dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya akibat pembagian peran tim yang buruk. Hal ini tentu berujung pada kinerja bisnis tersebut. Para pemangku kepentingan, termasuk karyawan, mitra strategis, dan investor, semuanya dapat berperan dalam jatuhnya sebuah inisiatif usaha. Maka, untuk membentuk tim yang baik, peran penting tersebut harus dijalankan oleh orang yang tepat pula.

Ibarat saat hendak membangun rumah, selain menentukan persiapan desain arsitektur, memilih bahan bangunan, dan perhitungan lainnya, langkah awal yang harus dilakukan adalah membangun fondasi yang kokoh. Begitu juga saat membentuk startup, anggota tim berperan sebagai fondasi yang mendukung kesuksesan usaha bersama. Oleh karena itu, kerja sama yang baik, komitmen yang kuat, serta rasa saling memiliki antar anggota tim harus selalu diutamakan. Dapat dikatakan bahwa kesuksesan startup tidak luput dari komposisi dan peran tim yang tepat serta dinamika tim yang baik. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan para pemodal ventura saat memilih calon perusahaan rintisan yang akan didanai.

Lalu, seperti apa komposisi dan dinamika tim yang ideal di mata pemodal ventura?

Komposisi dan Peran Tim yang Tepat

Kamu mungkin sudah tidak asing dengan istilah the dream team atau tim impian dalam dunia startup digital. Mengutip Forbes, Rei Inamoto, sebagai salah satu orang paling berpengaruh dalam dunia pemasaran dan industri kreatif saat ini, pernah mengatakan bahwa untuk menjalankan tim yang baik dan efisien, maka membutuhkan tiga tipe individu di dalamnya, yakni hipster, hacker, dan hustler. Seperti apa karakter tiap-tiap tipe tersebut?

  1. Hipster: Apalah arti produk yang bagus tanpa desainer hebat di baliknya? Anggota tim yang dijuluki the hipster adalah mereka yang menggerakkan bisnis dari sisi kreatif untuk memaksimalkan pengalaman pengguna (user experience). Artinya, mereka juga yang berperan membangun identitas dan keunikan jenama dari tampilannya.
  2. Hacker: Sementara, the hacker dalam startup digital adalah tim yang berkutat dengan produk dari sisi teknologi, seperti software engineer dan developer. Merekalah pahlawan pintar di balik kerumitan bahasa pemrograman yang berperan merealisasikan ide-ide anggota tim agar produk senantiasa berkembang menjadi produk unggulan dari sebuah startup digital. Fokus hacker adalah memutakhirkan produk dengan fitur-fitur yang memberikan kenyamanan bagi penggunanya.
  3. Hustler: Lalu, terakhir adalah the hustler, mereka yang ahli dalam bisnis dan pemasaran. Perannya sangat penting demi keberlangsungan bisnis, menciptakan strategi pemasaran, mengatur kerja sama dengan pihak eksternal, hingga penjualan produk. Hasil akhirnya adalah memberikan pendapatan yang rutin demi keberlanjutan bisnis.

Peran ketiga anggota tim ini sangat besar bagi keberlangsungan startup sehingga umumnya startup wajib memiliki pemimpin yang memenuhi tiga kriteria tersebut. Kemudian, baru diikuti dengan anggota tim penunjang lainnya. Dengan demikian, tim akan memiliki komposisi yang lengkap untuk menjalankan usahanya.

Artinya, tim yang ideal di mata pemodal ventura adalah tim yang beranggotakan orang-orang berpengalaman di bidang tertentu sesuai dengan perannya masing-masing dalam perusahaan. Terlepas dari pengalaman terdahulu, latar belakang keluarga di bidang yang relevan dengan usaha rintisan saat ini juga dapat menjadi pertimbangan.

Misalnya, Startup X adalah perusahaan yang menawarkan solusi edukasi berbasis teknologi B2B yang ditargetkan untuk siswa SD, SMP, hingga SMA se-Jabodetabek.

Timnya terdiri dari pemimpin tertinggi atau Chief Executive Officer (CEO) yang merupakan seorang mantan karyawan di biro konsultan bisnis ternama. Keluarganya memiliki latar belakang bisnis di bidang pendidikan, yakni menjalankan beberapa sekolah kecil di sekitar Jakarta, dan dia juga mempelajari sektor pendidikan selama bekerja di biro konsultan bisnis tersebut.

Sementara itu, pemimpin khusus pengembangan teknologi atau Chief Technology Officer (CTO) perusahaan ini memiliki pengalaman 10 tahun di perusahaan teknologi bonafid. Adapun, posisi terakhirnya adalah sebagai Manajer Produk piranti lunak yang dipakai untuk, salah satunya menunjang kegiatan belajar mengajar. Lalu, kepala bagian pemasaran atau Chief Marketing Officer (CMO) juga memiliki 10 tahun pengalaman sebagai direktur pemasaran dalam penjualan buku sekolah. Ia telah mengantongi sejumlah jaringan sekolah yang dapat digunakan untuk perkembangan di Startup X.

Ketiga pemimpin yang berlatar belakang bidang pendidikan dan juga ahli dalam menjalankan perannya di Startup X akan meningkatkan peluang mereka mendapatkan perhatian dari pemodal ventura.

Peran pemimpin yang relevan dan tepat dapat menjadi dasar yang kuat dalam meningkatkan peluang startup untuk memenangkan hati para pemodal ventura.

Banyak orang menganggap bahwa investor hanya peduli terhadap startup yang memiliki ide menarik, strategi dan bisnis model yang unik dan realistis, serta mengantongi target pasar yang besar dengan prospek penghasilan yang menjanjikan. Namun, latar belakang, komitmen, dan keterikatan anggota tim juga menjadi aspek penting di dalamnya. Praktisi di bidang investasi dan modal ventura, Dave Lishego dalam tulisannya mengungkapkan ada beberapa hal penting yang umumnya menjadi bahan evaluasi pemodal ventura terhadap tim startup.

Pertama, tentang rekam jejak anggota, apakah mereka saling mengenal sebelumnya atau pernah bekerja bersama dalam sebuah proyek. Tanpa keterikatan yang kuat, akan semakin besar peluang terjadinya keretakan dalam tim, diikuti dengan pudarnya kegigihan dan kesediaan untuk bekerja keras tanpa pamrih.

Kedua, terkait komitmen pemimpin dan seluruh tim. Akan sulit jika pemimpin tidak berdedikasi penuh untuk menjalankan startup yang dibangunnya. Komitmen yang tidak maksimal itu akan berdampak pada tim. Kurangnya keselarasan tingkat komitmen dapat menumbuhkan rasa frustasi karena kadar pengorbanan yang tidak sama.

Ketiga, berkaitan dengan rasa saling memiliki. Apakah anggota tim memiliki tujuan dan nilai yang sama? Bagaimana mereka berinteraksi saat presentasi produk ke klien? Apakah lebih sering muncul argumen dibandingkan kesepakatan di antara mereka? Di sinilah peran pemimpin juga dibutuhkan, yakni untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim saling mendukung, menghormati, dan terbuka satu sama lain.

Memang, untuk mempertahankan dinamika anggota tim bukan hal sepele, semuanya perlu dimulai dari para pemimpin. Saat investor mengevaluasi tim startup, resume yang baik dari pemimpin dan semua anggota tim saja tidak cukup untuk mencapai kinerja yang hebat.

Startup tidak akan berhasil tanpa anggota tim yang mau bekerja sama, memiliki visi yang selaras, punya komitmen yang sama kuatnya, serta ada keterikatan atau rasa saling memiliki antaranggota. Membangun startup yang sukses tidaklah mudah, tanpa semangat kewirausahaan dan visi strategis serta dinamika tim yang baik, resume yang bagus hanya akan dipandang tidak lebih dari selembar kertas. Oleh karena itu, ide bisnis yang bagus juga tidak akan ada artinya tanpa anggota tim yang kompeten dan memiliki visi yang sama dalam menjamin keberlangsungan bisnis.

*Gabriella Thohir | Analyst Skystar Capital | Skystar Capital – Pemodal Ventura – membantu akselerasi bisnis rintisan (startup) yang berfokus pada pendanaan awal